Pedoman Debat

BAB I

FORMAT DEBAT PARLEMEN AUSTRALIA

1. Tujuan Debat

  1. Meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi bahasa Inggris
  2. Memperbaiki kemampuan siswa dalam menyampaikan pendapat, pandangan dan persepsi mereka terhadap berbagai hal
    • Mengarahkan siswa agar menjadi lebih kritis,  berpikir analitis dan konstruktif
    • Mengarahkan siswa agar mampu bertindak sportif

2.  Gambaran Umum

Format debat ini diadopsi dari format debat yang ada di parlemen Australia. Berikut abstraksinya :
  1. Pihak pertama (Tim Afirmatif) mengajukan sebuah usulan kepada parlemen
  2. Pihak oposisi (Tim Negatif) menyanggah usulan tersebut
  3. Masing-masing pihak berusaha meyakinkan Parlemen (Adjudicator) bahwa usulannya yang patut diterima
  4. Masing-masing pihak mendapat alokasi waktu yang setara untuk mengemukakan pandangannya secara bergantian
  5. Parlemen (Adjudicartor) melakukan pengambilan suara (voting) untuk memeutuskan usuan mana yang diterim
3.  Pelaku
  1. Debat dipimpin oleh seorang ketua sidang (Chairperson)
  2. Tim Afirmatif beranggotakan 3 orang
  3. Tim Negatif beranggotakan 3 orang
  4. Ketua sidang didampingi oleh seorang pencatat waktu (Time Keeper)
  5. Tim juri (Adjudicator) dengan jumlah minimal 3 orang dan harus ganjil
4.  Skema Format Debat Australia
KeteranganKS      : Ketua Sidang (Chairperson)

PW     : Pencatat Waktu (Time Keeper)

Tim Affirmatif

A1      : Pembicara Pertama (First Speaker)

A2      : Pembicara Kedua (Second Speaker)

A3      : Pembicara Ketiga (Third Speaker)

Tim Negatif

N1      : Pembicara Pertama (First Speaker)

N1      : Pembicara Pertama (Second Speaker)

N1      : Pembicara Pertama (Third Speaker)

J1, J2, J3, dst     : Tim Juri (Adjudicator)

5.  Tugas masing-Masing Tim
A. Tim Afirmatif (dikenal sebagai pihak pemerintah)
  1. Mendifinisikan topik (motion) yang diajukan
  2. Memberikan argumentasi yang mendukung
B. Tim negatif (dikenal sebagai pihak oposisi)
  1. Menyanggah topik (motion) yang didefinisikan oleh Tim Afirmatif
  2. Membangun kasus yang melawan argumentasi Tim Afirmatif
  3. Bila Tim Negatif memandang bahwa definisi yang diajukan oleh Tim Afirmatif tidak sah, Tim Negatif dapat mengajukan keberatan dan mengajukan definisi baru. Namun dalam hal ini tidak dapat dilakukan semata-mata karena Tim Negatif berpandangan bahwa definisinya sendiri yang lebih hebat.
C. Ketua Sidang (Chairperson)
1.  Membuka debat
2.  Memperkenalkan masing-masing pembicara dari kedua Tim
3.  Mengumpulkan dan memeriksa keabsahan penilaian Tim Juri ( Adjudicator)
4. Menghitung suara anggota Tim Juri ( Adjudicator) dan menyimpulkan pemenangnya
5.   Mempersilahkan Tim Juri ( Adjudicator)       mengadakan penjurian oral (oral adjudication)
6.  Mengumumkan pemenang
7.  Menutup
D. Pencatat Waktu (Time Keeper)
1.  Mengamati waktu yang diberikan untuk masing-masing pembicara
2. Memberikan isyarat ketukan satu kali pada dua menit sebelum waktu seorang pembicara habis
3.  Memberikan ketukan dua kali setelah waktu bicara habis
4.  Memberikan ketukan lebih dari tiga kali (continous knock) setelah dua detik dari waktu bicara habis bila pembicara masih
meneruskan pidatonya
5.  Mencatat dan mengumumkan waktu yang dihabiskan pembicara kepada pemirsa.
6. URUTAN BERBICARA
Pidato Utama
(Substantial Speech)
Pembicara Pertama Tim Afirmatif (A1)
Pembicara Pertama Tim Negatif (N1)
Pembicara Pertama Tim Afirmatif (A2)
Pembicara Pertama Tim Negatif (N2)
Pembicara Pertama Tim Afirmatif (A3)
Pembicara Pertama Tim Negatif (N3)
5 menit
Pidato Balasan
Balasan Tim Negatif
Balasan Tim Afirmatif
3 menit

BAB II

PERIHAL ISI DEBAT

1.  Motion (Topik)
Motion adalah sebuah pernyataan usulan yang akan diperdebatkan. Tim Afirmatif akan memberikan argumentasi untuk
mempertahankan usulan/motion tersebut. Sebaliknya, Tim Negatif harus memberikan argumentasi untuk menolak
usulan tersebut.
2.  Definisi
Tim Afirmatif harus mendefinisikan motion yang diajukan dengan :
  • Memberikan gambaran yag jelas dan lugas mengenai motion yang dibicarakan
  • Membatasi lingkup pembicaraan dengan menetapkan batas yang jelas
Hal ini untuk mencegah perdebatan yang tidak jelas karena adanya perbedaan persepsi pada kedua belah pihak mengenai topik yang dibicarakan.
Beberapa contoh penyusunan definisi :
Motion     : Bahwa sesuatu yang pernah naik harus pula turun
  1. Tim Afirmatif memiliki berbagai kemungkinan mendifinisikan motion tersebut, karena motion yang diajukan tersebut bersifat abstrak.
  2. Tim Afirmatif bisa  saja mendefinisikan ‘sesuatu’ sebagai presiden Republik Indonesia
  3. Dengan demikian motion itu mengandung inti bahwa siapa saja yang ‘naik’ (menerima kekuasaan) sebagai presiden RI suatu waktu harus ‘turun’ (menyerahkan kembali kekuasaannya).
  4. Oleh karena itu jabatan yang diajukan adalah : ‘Bahwa jabatan kepresidenan RI harus dibatasi sebanyak 2 periode’.
  5. Tim Afirmatif kemudian harus mengajukan argumentasi mengenai kerusakan yang terjadi bila masa kepresidenan tidak dibatasi serta memberikan bukti-bukti pendukung, misalnya : kontrol pada semua bidang selama pemerintahan rezim yang lalu, dll.
Contoh diatas menunjukkan bahwa pada umumnya permasalahan yang diperdebatkan tidak diketahui hingga Tim Afirmatif menyajikan definisinya.
Panduan dalam menyusun definisi :
  1. Harus dapat diperdebatkan (misalnya : memiliki dua sisi yang bertentangan).
  2. Tidak boleh menyimpang dari topik yang diajukan.
Definisi yang harus diperdebatkan oleh Tim Negatif :
a. Definisi Truistik
Terjadi bila tim mendefinisikan sebuah motion secara harfiah dan hakiki sehingga tidak dapat diperdebatkan
b.  Definisi Tautologis (Berputar)
Terjadi bila disusun sedemikian rupa sehingga tidak mungkin secara logis dapat ditegaskan.
c. Squirelling
Terjadi bila definisi tidak sesuai dengan motion atau tidak memiliki kaitan yang logis dengan motion.
3.  Pembatasan Ruang dan Waktu
Pokok permasalahan yang diperdebatkan tidak dapat dibatasi pada periode, waktu dan tempat tertentu.
4.  Catatan mengenai tantangan terhadap suatu definisi
a.  Menantang catatan yang diberikan Tim Afirmatif hanya dapat dilakukan bila anda merasa pasti bahwa definisi tersebut
tidak fair.
b.  Lebih baik Tim Negatif meninggalkan kasus yang sudah dipersiapkan dan menghadapi Tim Afirmatif berdasarkan definisi yang
mereka buat daripada menantang mereka tanpa dasar dan alasan yang kuat.
5.  Themeline (Benang Merah Argumentasi)
Themeline adalah pikiran utama yang mengaitkan pembicara pertama, kedua, dan ketiga sehingga terdapat konsistensi
Sebuah tim harus memiliki benang merah argumentasi yang merupakan alur pikir logis mengenai motion yang diperdebatkan.
Benang merah argumentasi menunjukkan mengapa usulan/pandangan tim tersebut benar dan logis.
6. Argumentasi
Argumentasi adalah proses menjelaskan mengapa sudut pandang tim tersebut harus diterima. Argumentasi bukan opini, karenanya harus didukung oleh bukti-bukti (contoh :  fakta, statistik, kutipan pakar, pandangan masyarakaty, dll) yang relevan.
Argumentasi yang baik :
  1. Relevan
  2. Tersusun dengan baik
  3. Konsisten dan logis secara internal (Argumen seorang pembicara tidak boleh kontradiktif dengan argumen pembicara lainnya)
  4. Jelas, karena sebuah tim pada dasarnya sedang berusaha untuk meyakinkan orang lain bahwa argumentasinya benar.
  5. Menggunakan bukti-bukti secara efektif.
Berikut ini panduan untuk menyusun argumentasi yang baik :
  1. sedapat mungkin berikan konfirmasi mengenai fakta yang disampaikan
  2. Bahas permasalahan dari semua sudut pandang
  3. Argumentasi dari penguasa bobotnya tidak besar karena penguasa sering membuat kesalahan.
  4. Persiapkan lebih dari satu kasus. Dalam menyusun definisi, pikirkan berbagai cara pe definisian. Kemudian bangun argumentasi yang dapat digunakan untuk menyanggah kasus tersebut satu persatu.
  5. Jangan terpaku pada satu kasus karena itu adalah hasil pemikiran anda pribadi.
  6. Kuantifikasi.  Argumentasi menjadi lebih kuat bila dilengkapi dengan data kuantitatif.
7.  Rebutal (Sanggahan)
Menyanggah adalah proses untuk membuktikan bahwa bobot argumentasi tim lawan lebih rendah daripada yang mereka katakan. Termasuk didalamnya :
  1. Menunjukkan bahwa argumen lawan didasarkan pada fakta yang salah, atau interpretasi yang salah mengenai suatu fakta.
  2. Menunjukkan bahwa argumen lawan tidak relevan dengan upaya pembuktian motion.
  3. Menunjukkan bahwa argumen lawan tidak logis.
  4. Menunjukkan bahwa meskipun argumen lawan benar namun implikasinya tidak dapat diterima.
  5. Menunjukkan bahwa meskipun argumen lawan benar namun bobotnya tidak terlalu besar.
Seperti argumen sanggahan juga bukan opini semata. Seperti keharusan tim harus menjelaskan mengapa dan bagaimana keabsahan argumennya, mereka juga harus menunjukkan bagaimana dan mengapa argumen lawan dipandang tidak sah.
Berikut ini beberapa panduan menyusun rebutal (sanggahan) :
  1. Sebuah argumen lawan dapat saja salah karena fakta dan logikanya. Carilah penjelasannya, bagaimana itu terjadi dan mengapa itu terjadi.
  2. Sebuah argumen dapat pula kontradiktif dengan argumen pembicara lain dari tim tersebut, atau merupakan pengulangan dari pembicara lain. Maka tunjukkan hal tersebut. Kemampuan anda dalam mencermati pembicaraan tim lawan, dan kemampuan anda untuk mendengarkan sangat berperan.
  3. Sebuah argumen bisa saja benar tetapi tidak relevan. Cermatilah pembicaraan tim lawan. Sekiranya hal itu tidak ada relevansinya menurut pandangan anda tunjukkan apanya yang tidak relevan dengan apa dan mengapa, serta bagaimana bisa tidak relevan.

BAB III

PEMBAGIAN KERJA TIM

Debat adalah kerja tim, oleh karena itu seharusnya ada pembagian kerja yang jelas antara ketiga pembicara. Sehingga argumen-argumen yang diajukan penyampaiannya dibagi kepada ketiga pembicara atau dengan pengertian lain, pembagian tugas adalah pendistribusian argumen kepada masing-masing pembicara.
1.  Pidato utama
1. Pembicara Pertama
A1.     Pembicara Pertama Tim Afirmative
  • Mendefinisikan motion
  • Menyampaikan benang merah argumentasi Tim Afirmatif
  • Memaparkan pembagian kerja tim
  • Menyampaikan argumen pertama
  • Menyampaikan ringkasan dari pidatonya
N1.     Pembicara Pertama Tim Negatif
  • Menanggapi definisi yang disampaikan Tim Afirmatif (Menerima atau menentang)
  • Menyanggah A1
  • Menyampaikan benang merah argumentasi Tim Negatif
  • Memaparkan pembagian kerja Tim Negatif
  • Menyampaikan argumen utama
  • Menyampaikan ringkasan dari pidatonya
2.  Pembicara kedua
Pembicara kedua berperan menyajikan argumen pokok untuk memenangkan debat
A2.     Pembicara Kedua Tim Afirmatif
¨   Menyanggah argumen utama N1
¨   Mempertahan kan definisi bila N1 menentang definisi tersebut
¨   Secara selintas menegaskan kembali argumen utama tim Afirmatif
¨   Menyampaikan argumen. Sebagian besar waktu A2 digunakan untuk mengemukakan argumen dan materi baru; tidak sekedar mengulang argumen A1 (pembicara pertama). A2 bertugas menyajikan pokok-pokok argumen Tim Afirmatif.
¨   Menyampaikan ringkasan dari pidatonya
N2.     Pembicara Kedua Tim Negatif
¨   Menyanggah argumen A1 dan A2
¨   Secara selintas menegaskan kembali argumen utama Tim Negatif, mengemukakan argumen dan materi baru/tidak sekedar mengulang argumen N1 (pembicara pertama Tim Negatif. N2 bertugas untuk menyajikan pokok-pokok argumen Tim Negatif.
¨   Menyampaikan ringkasan dari pidatonya.
3.  Pembicara Ketiga
Tugas utama pembicara ketiga adalah menyanggah lawan
A3.     Pembicara Ketiga Tim Afirmatif
¨   Menanggapi dan menyanggah argumen N1 dan N2 terutama mengenai hal-hal yang belum semput ditanggapi oleh A2 dan A2
¨   Mempertegas sanggahan yang disampaikan oleh A2
¨   Menegaskan kembali argumentasi Tim Afirmatif yang telah disampaikan oleh A1 dan A2 dengan mengulas secara selintas benang merah dan argumen kedua pembicara terdahulu.
¨   Meringkas pokok-pokok permasalahan yang diperdebatkan.
N3.     Pembicara Ketiga Tim Negatif
¨   Menyanggah argumentasi ketiga pembicara Tim Afirmatif
¨   Menegaskan kembali argumentasi Tim Negatif dengan mengulas secara selintas benang merah dan argumen kedua pembicara terdahulu
¨   Meringkas pokok-pokok permasalahan yang diperdebatkan.
¨   Tidak boleh menyajikan pokok permasalahan.
B. Reply (pidato Balasan)
Pidato balasan merupakan pidato penutupan masing-masing tim yang memberikan ulasan mengenai keseluruhan debat.
Berikut ini panduan untuk menyusun pidato balasan :
  1. Menegaskan pokok-pokok utama argumen tim.
  2. menunjukkan kaitan logis dari argumen tersebut menuju pembuktian benang merah
tim.
  1. Menunjukkan secara lugas kekurangan dari argumentasi tim lawan. Hal ini dapat
dilakukan secara umum maupun secara rinci.
  1. Pembicara tidak boleh menyajikan pokok permasalahan baru, dan tidak boleh juga melakukan penyanggahan terhadap pokok-pokok yang disampaikan dalam pidato.
C.  Pembagian Tugas
Walaupun setiap pembicara harus membuktikan motion, pembagian tugas tidak dapat didasarkan atas premis. Contohnya    premis satu untuk pembicara pertama, dan premis dua untuk pembicara kedua. Hal ini mengakibatkan kasusnya tidak jelas (hung case). Hung case adalah suatu keadaan dimana seorang pembicara tidak dapat membuktikan motionnya sendiri tetapi membutuhkan pembicara lain untuk akhirnya membuktikan motion tersebut.
Cara yang bisa diambil untuk membagi tugas adalah dengan membaginya kedalam beberapa aspek. Misalnya: ekonomi, sosial, politik, budaya, dan sebagainya. Atau dapat juga digunakan pembagian masa lalu dan masa sekarang. Filosofi dan praktek, keuntungan dan kerugian dan sebagainya.
Karena pembicara pertama harus menjelaskan definisi, dasar argumentasi dan pembagian antara pembicara pertama dan kedua tidak perlu seimbang, tetapi lebih baik untuk lebih ditekankan pada saat pembicara kedua tampil.
Pembicara ketiga dari Tim Oposisi tidak diperbolehkan untuk memberikan argumen baru. Pembicara ketiga dalam posisi seperti hanya diperbolehkan membawa contoh-contoh baru.

BAB IV

TEKNIK MERUMUSKAN SEBUAH KASUS


1.  Teknik merumuskan kasus
Perumusan kasus adalah proses mempersiapkan sebuah kasus untuk diperdebatkan. Kasus adalah kumpulan argumentasi, logika, fakta-fakta, contoh-contoh, dan pernyataan-pernyataan yang digunakan untuk membuktikan suatu hal.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan sebuah kasus :
  1. Mendifinisikan suatu motion.
  2. Mempersiapkan landasan argumen.
  3. Memberi tugas kepada tiap pembicara mengenai argumen yang akan mereka bawakan dan sekaligus untuk membuktikan suatu motion dalam debat.
  4. Menemukan dan menganalisa argumen, fakta, contoh-contoh, dan lain-lain. Baik untuk mendukung kasus timnya ataupun untuk menyanggah kasus lawan.
  5. Mempersiapkan pidato individu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s